Kami hadir ingin melestarikan budaya warisan keagungan leluhur,bermacam macam tosan aji dan hasil cipta rasa karsa manusia kami suguhkan kepada anda sekalian.jikalaupun ada kekurang tepatan dalam penangguhan,dapur,pamor dan filosofis tosan aji yang kami suguhkan mohon kami diberi masukan khasanah pengetahuan agar kelak tidak terjadi kekisruhan pengetahuan untuk generasi penerus.SALAM SILAHTURAHMI DARI SAYA & SALAM BUDAYA

Rabu, 18 April 2012

SEKILAS TENTANG PAMOR


PAMOR
Pamor merupakan hiasan atau motif atau ornamen yang terdapat pada bilah tosan aji (Keris, Tombak,
Pedang atau Wedung dan lain lainnya). Hiasan ini dibentuk bukan karena diukir atau diserasah (Inlay)
atau dilapis tetapi karena teknik tempaan yang menyatukan beberapa unsure logam yang berlainan.
Teknik tempa ini sampai saat ini hanya dikuasai oleh para Empu dari wilayah Nusantara dan
sekitarnya saja (Malaysia, Brunei, Philipina dan Thailand) walau ada yang berpendapat asal teknik ini
dari Tibet atau Nepal, tetapi pendapat tersebut tidak beralasan sama sekali.
Diluar wilayah Nusantara dan sekitarnya biasanya hanya dikenal teknik Inlay saja seperti pedang dari
Iran atau negara Eropa lainnya sehingga walau secara seni (art) tampak indah tetapi kesan “Wingit”
nya tidak ada sama sekali.
Ada kalanya Pedang buatan Empu diluar wilayah Nusantara terdapat juga Pamor, tetapi biasanya
karena tanpa sengaja sewaktu dibuat pedang tersebut tercampur beberapa logam lainnya yang
mengakibatkan timbulnya pamor tersebut, kadangkala munculnya pamor tersebut setelah pedang
tersebut berumur ratusan tahun.
Ini pula yang mungkin menjadi dasar Empu diwilayah Nusantara (Khususnya Jawa) yang mengolah
cara pencampuran berbagai logam sehingga terbentu pamor yang indah dan bernilai seni tinggi.
Bahan pamor ini oleh kebanyakan penulis dari barat dikatakan dari bahan Nikel, padahal ini salah
sama sekali karena berdasarkan penelitian oleh Bapak. Haryono Aroembinang MSc (alm) dan
beberapa ahli di BATAN Jogjakarta didapat bukti bahwa bahan itu adalah Titanium, suatu bahan yang
baru pada abad 20 digunakan sebagai bahan pelapis kendaraan angkasa luar, padahal empu kita
sudah menggunakannya dari dulu. Ini diterangkan sebagai berikut, ketika meteor masuk ke atmosfir
bumi maka sebagian besar bahan tembaga, besi, nikel, timbel, kuningan terbakar hancur dan hanya
titanium yang bertahan sampai bumi. Bahan baku pamor dahulu dibuat dari meteor yang terdapat
dibumi sehingga keris jaman dulu banyak mengandung Titanium dan beratnya juga ringan.
Terkenal dulu bahan pamor dari Luwu, Sulawesi Selatan yang dibawa oleh pedagang dari Bugis.
Bahan Pamor yang paling terkenal adalah Pamor Prambanan, saat ini ada di Kraton Surakarta diberi
nama Kanjeng Kyai Pamor dan ukurannya sekarang tinggal sekitar 60x60x80 Cm sebesar meja kecil
karena sudah banyak digunakan empu membuat karis pesanan dari Kraton.
Setelah bahan meteorit susah didapat, barulah bahan Nikel digunakan, sehingga keris saat ini bobot
nya biasanya lebih berat dari keris kuno.

PAMOR MLUMAH, PAMOR MIRING.
Dilihat dari cara pembuatannya sebetulnya hanya dua cara pembuatan Pamor yang baik yaitu Mlumah
dan Miring. Pamor mlumah adalah lapisan-lapisan pamornya mendatar sejajar dengan permukaan
tosan aji sedangkan pamor miring lapisan pamornya tegak lurus permukaan bilah.
Ada juga tosan aji yang dibuat dengan kombinasi pamor mlumah dan miring hanya saja
pembuatannya sangat sulit, lebih sulit dari pembuatan pamor miring.
Pamor Mlumah biasanya bermotif Beras Wutah, Ngulit Semangka, Satria Pinayungan, Udan Mas,
Wulan-wulan dan sebagainya, sedangkan Pamor Miring umumnya motif Adeg, Batu Lapak, Sodo
Saeler, Tumpuk dll. Kesan Pamor Miring agak kasar bila diraba bilahnya dan nyekrak dibanding pamor
mlumah.
Apabila lipatannya banyak, baik di pamor mlumah atau
miring, maka hasilnya kemungkinan akan menjadi pamor
luluhan, praktis pamor dan besi sudah “menyatu” walau
tidak terlalu homogen, ini akan terlihat dengan
menggunakan kaca pembesar.
Pamor luluhan yang gampang terlihat antara lain di
keris buatan Empu Pitrang dijaman Blambangan, diantara
pamor Adeg pada beberapa bagian bilah tampak pamor
luluan yang sepintas seperti pamor Nggajih.
Kalau lipatannya lebih banyak lagi seperti buatan Empu Pangeran Sedayu maka pamor luluhan ini
tidak tampak dengan mata telanjang dan sangat kecil atau tiad mungkin kena karat karena
menyatunya bahan pamor dengan bahan besinya.
Cara lainnya.
Ada cara lain membuat pamor selain Mlumah dan Miring yaitu dengan cara mengoleskan bahan
pamor ke bilah, biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari
besi, caranya dengan menuangkan bahan tersebut yang cair kebilah besi yang membara kemudian
dioleskan dengan ujung mancung (kelopak bunga) kelapa sebelum bahan cair tersebut mengeras dan
dibuat pamor yang dikehendaki si Empu. Hasilnya umumnya kasar bila diraba dan pamor ini disebut
Ngintip (dari Intip/Kerak nasi).
Cara ini hanya digunakan Empu luar keraton, empu Desa atau
disebut juga empu Njawi.
Ada lagi cara membuat pamor dengan menyiramkan bahan
pamor cair ke bilah membara dari pangkal keris keujungnya,
pamornya dinamakan Nggajih karena menyerupai lemak.

PAMOR REKAN dan PAMOR TIBAN.
Sewaktu membuat keris, Sang Empu berpasrah diri kepada Tuhan YME dan menyerahkan saja
bagaimana bentuk pamor yang terjadi maka biasanya pamor yang timbul disebut pamor Tiban,
sedangkan bila selama pembuatan direka oleh sang Empu maka pamor yang terjadi disebut pamor
rekan.
Pamor rekan sering juga gagal dalam pembuatannya, misal sang empu ingin membuat pamor Ron
Genduru tetapi jadinya malah Ganggeng Kanyut.
Sebenarnya agak sulit membedakan mana pamor rekan atau tiban karena bisa dilihat dari sudut
pandang yang berbeda-beda.

PAMOR MUNGGUL
Banyak yang menganggap pamor ini pamor titipan, selain itu banyak yang menganggap ini sebagai
pamor tiban karena tidak bisa dibuat secara sengaja.
Pamor ini seperti bisul menonjol sekitar 1 mm diatas
permukaan bilah umumnya berbentuk lingkaran, baik bulat
atau lonjong tetapi ada yang berbentuk gambar membujur
lancip panjang. Letaknya bisa dibagian sor-soran, tengah
ataupun pucuk. Bisa ditepi atau tengah bilah dan termasuk
pamor yang baik serta dicari banyak orang.
Bagaiman pamor ini timbul tidak bisa diterangkan secara
pasti, tetapi diduga saat “masuh” atau membersihkan bahan
keris dari kotoran, ada unsur logam lain yang menyelip dan
lebih keras dari unsur logam besi, tetapi ini baru dugaan saja.

PAMOR AKHODIYAT.
Namanya kadang Akordiyat, Kodiyat atau Akadiyat. Wujudnya menyerupai lelehan dari tepi bentuk
pamor dengan warna putih cemerlang keperakan dan lebih cemerlang dibanding keputihan pamor
pada umumnya.
Ada yang menganggap sebagai pamor titipan atau “sifat” dari pamor tersebut, ternyata semua salah.
Sebetulnya ini terjadi karena penempaan pamor tersebut dilakukan pada suhu yang tepat yang
berbeda setiap bahannya, jadi susah diduga berapa suhu yang tepat itu, sehingga banyak yang
sepakat bahwa pamor ini dikategorikan ke pamor tiban.
Di Madura biasa disebut pamor “dheling”, kalau tersebar dipermukaan bilah disebut “dheling setong”
dan dianggap mempunyai tuah baik.
Pamor dheling yang terbaik terdapat di pucuk bilah dan disebut “dheling pucuk” dan atau dibagian
peksi yang disebut “dheling peksi”.

PAMOR TITIPAN.
Pamor ini berbentuk rangkaian kecil yang
merupakan perlambang atau tuah tertentu dan
pamor ini jarang berdiri sendiri, umumnya
tergabung dengan pamor lain yang lebih
dominan, antara lain Beras Wutah, Pulo Tirto atau
Pendaringan Kebak.
Pamor ini ada yang merupakan pamor tiban, tidak
sengaja dibuat seperti Pamor Rahala, Dikiling,
Inkal, Putri Kinurung, Gedong Mingkem, Jung Isi
Dunya, Telaga Membleng dll.
Pamor titipan yang merupakan pamor rekan
antara lain yang terkenal adalah Kuto Mesir, Kul
Buntet, Udan Mas, Watu Lapak dll.
Pamor Titipan yang merupakan pamor tiban dibuat bersama dengan pamor lainnya sedangkan yang
rekan biasanya dibuat setelah pamor dominan jadi, merupakan pamur yang disusulkan.

SINARASAH, KINATAH dan ETSA.
Tidak semua lukisan atau gambar yang ada dibilah keris dikategorikan sebagai pamor, yang
digolongkan sebagai pamor adalah gambar atau lukisan yang terjadi karena percampuran antara dua
atau lebih bahan logam pembuat keris. Selain pamor juga sering kita temui yang disebut Kinatah,
Serasah atau Sinarasah dan Etsa atau Kamalan.

KINATAH.
Gambaran atau lukisan pada logam yang disebabkan oleh kinatah
atau ditatah/diukir logamnya dan menghasilkan gambar atau lukisan
yang menonjol, bisa berupa tulisan, rajah, lukisan, motif bunga,
daun, binatang dan lainnya. Diatas tonjolan itu biasanya dilapisi
perak atau emas atau logam lain.
Kinatah pada keris biasanya berupa ukiran Gajah Singa dibagian
ganja keris yang menghadap ke ukiran/deder. Kinatah lain bisa juga
untuk menghias seperti keris dapur Naga Sastra, Naga Keras, Singo
Barong serta hiasan berupa lung-lungan, pari sawuli, kembang
setaman dll.
Kinatah yang menggunakan dua logam (missal emas dan perak)
biasa disebut “Silih Asih”, umpamanya Kembang Setaman pada
bagian daun dilapis emas dan bunganya dilapis perak. Kinatah yang
menghiasi hampir seluruh permukaan bilah keris disebut
“Kamarogan”.

SINARASAH.
Hiasan Sinarasah atau Serasah ialah dengan membuat parit parit dipermukaan bilah berupa tulisan
atau yang lain kemudian dituangkan cairan logam seperti emas atau perak baru dihaluskan. Teknik ini
biasa disebut “Inlay”. Senjata yang terkenal dalam pembuatan inlay ini berupa pedang dari Iran
(Persia).

ETSA atau KAMALAN.
Cara menghias dengan cara kimiawi, Cara tradisional dengan menggunakan bahan pelican sedang
cara modernmenggunakan kimia. Banyak penipuan yang dilakukan dengan menggunakan cara ini.
Pada dasarnya teknik ini dengan meluluhkan sebagian permukaan bilah secara kimiauntuk membuat
lukisan atau tulisan tertentu dipermukaan bilah, yang paling sering diberi lukisan gambar wayang atau
beberapa tulisan arab.
Cara etsa ini bagi yang tahu sangat mudah mengerjakannya sehingga bila tertipu maka ibaratnya
pisau dapur pun bisa dibuat hiasan dan terlihat “bertuah”.
Dari ketiga cara diatas, yang paling baik adalah Cara Kinatah.

PAMOR PADA BAGIAN GANJA
Pamor kadang menghias bagian ganja juga, biasanya mempunyai warna sendiri yang berbeda dengan
nama pamor bilah walau variasinya lebih sedikit. Ada yang mengatakan pamor di ganja ini juga
mempunyai tuah.

PAMOR WINIH.
Mirip pamor Udan Mas tetapi setiap sisinya hanya
ada satu atau dua bulatan, kadang hanya satu
sisi dan satu bulatan saja. Kata Winih berasal
dari “benih”. Seperti namanya , pamor ini
dipercaya mempunyai daya untuk
“menumbuhkan” suatu harapan. Juga dianggap
baik bagi mereka untuk berdagang atau
wiraswasta karena baik untuk pengembangan
modal.

PAMOR SUMBER.
Seperti Pamor Winih, hanya bulatannya paling sedikit ada tiga (gambar diatas), tuahnya sama dengan
pamor Udan Mas.

PAMOR MAS KEMAMBANG.
Mirip kue lapis, ada yang hanya dua lapis tetapi
ada yang berlapis-lapis. Baik untuk yang banyak
berhubungan dengan orang karena memperlancar
pergaulan.

PAMOR TUNDUNG MUNGSUH.
Ganja dengan pamor seperti ini jarang sekali
terdapat dan biasanya hanya pada keris “TOP”
saja, dilihat dari susunan besi dan bahan
pamornya maka pamor ini mirip dengan pamor
Ujung Gunung pada bilah keris dengan posisi
yang melintang. Tuahnya menolak mara bahaya
dan membuat lawan takut.

WULUNG.
Ganja Wulung yaitu ganja tanpa pamor, hitam
kelam saja. Khasiatnya untuk memperkuat dan
memperbesar daya tuah keris. Ganja wulung
dianggap juga sebagai kamuflase terhadap jenis
pamor pada wilahnya.

PERLAMBANG DAN TUAH
Kebudayaan perlambang dimiliki oleh bangsa manapun, misalnya bendera kita merah putih yang
melambangkan berani dan suci, demikian juga bentuk pamor pada tosan aji mempunyai perlambang
tertentu.
Bentuk yang cenderung bulatan atau lingkaran
melambangkan sesuatu yang sifatnya keduniaan,
lambing harapan atas rejaki dari Allah YME,
ketentraman keluarga dan sebagainya.
Bentuk yang mengarah kepersegi empat, siku atau
sudut melambangkan harapan agar pemiliknya bisa
bertahan terhadap segala sesuatu yang sifatnya tidak
baik seperti godaan atau serangan baik phisik atau
non-phisik.
Bentuk seperti garis-garis baik yang membujur atau melintang bilah melambangkan fungsi menolak
sesuatu yang tidak diinginkan, umpamanya menolak maksud jahat, angin ribut, hujan binatang buas
dan sebagainya.
Selain itu ada juga kombinasi ketiganya karena kebanyakan pamor justru mirip lukisan abstrak dan
penuh perlambang.
Untuk mengetahui cocok tidaknya suatu tosan aji dengan melihat perlambang pada pamor, diperlukan
perasaan yan tajam, seperti orang yang menilai suatu lukisan diperlukan juga orang yang tahu seni
lukis dan peka rasa seninya.

PENILAIAN PAMOR.
Dalam menilai pamor ada beberapa macam dan kadang istilahnya khas Jawa seprti :
Wujud Semuning Pamor
1. Pamor Mrambut : kesan rabaannya terasa seperti meraba rambut, munculnya pamor
dipermukaan bilah bagai serat-serat lembut dan halus dan biasanya terjadi di pamor Adeg
terutama yang jenis pamor miring.
2. Pamor Nggajih : kesannya seperti berlemak, bagai lapisan lemak beku menempel dibilah.
3. Pamor Mbugisan : kesan penglihatan gradasi warna pamor tidak kontras. Batas antara tepi
pamor dan bilah tidak terlalu nyata.
4. Pamor Sanak/Nyanak : kesan penglihatan dan rabaan tidak terlalu jelas, jadi gambar
pamor tidak terlalu jelas dan kalau diraba juga tidak jelas.
5. Pamor Kelem : pamor cukup jelas tetapi perbedaan warna dan kecemerlangan pamor
dengan warna besi tak terlalu nyata, rabaannya kurang nyekrak tapi juga bukan lumer.
6. Pamor Ngintip : kesan rabaannya kasar tetapi tidak tajam. Jika dibandingkan dengan
lukisan seperti lukisan dengan menggunakan palet bukan cat.
Tanceping Pamor.
Artinya kurang lebih kondisi tertancapnya bahan pamor pada besi bilah, ada tiga jenis yaitu : Pandes,
Lumer Pandes dan Kumambang.
Pamor Pandes, tertanam kuat pada bilah seolah mengakar dan tegas menyembul kebilah.
Pamor Lumer Pandes, tertancap kuat pada bilah tetapi tidak terlalu tegas menyembul di bilah, bila
diraba terasa halus, tidak nyekrak.
Pamor Kumambang, kesannya mengambang pada bilah dan tidak terlalu kuat menempel pada
bilah.
Ketiganya sebetulnya hanya merupakan kesan pengelihatan dan rabaan setelah keris jadi dan tidak
tersangkut dengan cara serta sistem pembuatannya.

PENAMAAN PAMOR.
Pada umumnya penamaan pamor seperti gambar pamor tersebut, misalnya Pamor Pari Sawuli (Padi
Seuntai) mirip dengan padi yang seuntai, begitu juga Bawang Sebungkul, Ron Pakis dan sebagainya.
Tetapi ada juga penamaannya bukan dengan membandingkan kemiripan dengan benda tertentu
seperti pamor Raja Abala Raja atau Pandita Bala Pandita, apalagi yang termasuk pamor titipan seperti
Makrip, Tamsul, Dikiling yang bentuknya menyerupai lambing namun seolah mempunyai maksud
tertentu.
Ada dua pendapat mengenai penamaan pamor.
Pertama, bila si Empu ingin membuat Ron Genduru tetapi gagal dan jadinya Ganggeng Kanyut maka
namanya harus tetap Ron Genduru tetapi Ron Genduru yang gagal dan bukan Ganggeng Kanyut.
Kedua, dilihat dari bentuk jadinya, sehingga pamor tersebut dinamakan Ganggeng Kanyut.
Mana dari kedua pendapat tadi yang benar terserah pada penilaian kita masing-masing.

PENAMAAN SECARA UMUM.
Banyak tosan aji mempunyai gabungan atau kombinasi dari beberapa pamor, ada pamor dibagian
pangkalnya lain dengan bagian ujungnya dan ada yang sisi bilah satu lain dengan sisi bilah lainnya.
Ada lagi dalam satu pamor terselip pamor lainnya, lalu bagaiman cara penamaannya ?.
Jika pamor itu merupakan kombinasi satu sama lainnya terpisah menjadi dua atau tiga kesatuan
pamor maka umumnya dinamakan sederhana pamor Dwi Warna atau Tri Warna.
Kalau pamor yang satu menyelip kedalam pamor yang lain maka pamor yang satu dianggap pamor
titipan dan nama pamor tetap menggunakan nama pamor yang lebih dominan.

PAMOR YANG MENYATU ANTARA BILAH DAN GANJA.
Ada lagi bentuk pamor yang merupakan kesatuan antara bilah dan ganjanya, jadi pamornya sebagian
ada pada bilah dan sebagian lainnya pada ganja.

PAMOR ASIHAN.
Bentuknya sama dengan Ngulit Semangka hanya pamornya
menyambung antara bilah dan ganjanya, karena tuahnya memperlancar
pergaulan termasuk antar jenis, maka pamor ini disebut Asihan. Secara
lengkap disebut Pamor Ngulit Semangka Asihan. Ada juga Wos Wutah
Asihan tetapi jarang sekali. Kedua pamor Ngulit Semangka dan Wos
Wutah ini tidak pemilih tetapi pada pamor Asihan keris itu menjadi
pemilih dan tidak setiap orang cocok.

PANCURAN MAS.
Pamor ini juga ornamennya dari bilah menyebrang ke Ganja.
Pada bilahnya pamor ini sama betul dengan sada Saeler tetapi
pada bagian ganja berbentuk cabang seperti lidah ular.
Tuahnya dianggap sama dengan Udan Mas dan tergolong tidak
pemilih, cocok untuk semua orang.

ADEG IRAS.
Pamor Adeg yang menyebrang langsung ke Ganja, tetap bukan
ditambahi Asihan melainkan dengan tambahan Iras menjadi
Adeg Iras dan tuahnya sama dengan pamor Adeg lainnya.

PAMOR PAMOR YANG HAMPIR SAMA.
Ada beberapa jenis pamor yang bentuknya hampir sama dan sering dikacaukan orang penamaannya.
Yang paling sering dikacaukan adalah pamor Wos Wutah, Pulo Tirto dan Pendaringan Kebak.
Pamor Pulo Tirto memang mirip sekali dengan Wos Wutah, bedanya pada Pulo Tirto motif
gumpalannya terpisah satu sama lainnya dalam jarak cukup jauh sekitar 2 samai 3 cm. Sedangkan
pamor Wos Wutah, gumpalannya cukup rapat, seandainya terpisahpun jaraknya cukup dekat sekitar 1
cm saja.
Pamor Pendaringan Kebak juga mirip Wos Wutah, tetapi Pendaringan Kebak lebih penuh dan rapat
serta nyaris memenuhi seluruh permukaan bilah. Dari bawah sampai ujung bilah dan dari tepi satu
ketepi yang lainnya.
Kemudian pamor Adeg, Mrambut dan Ilining Warih.
Adeg berupa garis-garis yang tidak terputus dari bagian
sor-soran sampai ujung. Sedang Mrambut serupa benar
dengan Adeg, tetapi garisnya terputus-putus. Pamor
Ilining Warih sama dengan pamor Adeg hanya saja
garisnya bercabang dibeberapa tempat. Jadi bedanya
kalau garis itu tidak terputus disebut pamor Adeg, kalau
terputus disebut Mrambut dan kalau bercabang
namanya Ilining Warih.
Dengan demikian bila ada yang mengatakan pamor
Adeg Mrambut sebetulnya tidak tepat, karena pamor
Adeg ada sendiri dan Mrambut ada sendiri.
Jenis lain yang hampir sama adalah Ujung Gunung,
Junjung Drajat, Raja Abala Raja dan Pandito Bolo
Pandito. Secara umum keempat pamor itu berupa
garis yang menyudut. Bedanya kalau Ujung Gunung,
kaki garis sudut itu menerjang bilah. Pada pamor
Raja Abala Raja, mirip Ujung Gunung, tetapi garis
yang membentuk sudut menyebar diberbagai
tempat, dibagian sor-soran, bilah dan ujungnya.
Kalau pamor Junjung Drajat, serupa dengan Rojo
Abolo Rojo, hanya keseluruhan gambar itu berhenti
dibagian tengah bilah dan diatasnya ada pamor lain.
Keempat pamor ini sering sekali dikacaukan orang.
Selain itu, pamor Udan Mas, Segara Wedhi, Sisik Sewu dan Tetesing Warih juga banyak dikacaukan
orang, karena pamor Udan Mas lebih popular maka sering pamor Segara Wedi, Sisik Sewu atau
Tetesing Warih dinamakan juga Udan Mas.
Agar lebih jelas, perincian Pamor Udan Mas seharusnya :
Jumlah lingkaran pusarannya minimal tiga lingkaran, tetapi
umumnya ada lima lingkaran, bahkan yang baik (bila dilihat
kaca pembesar) ada 8 lingkaran dengan diameter sekitar 5
milimeter, penempatan pamornya bisa teratur seperti kartu
domino dan bisa juga tersebar tak beraturan disela sela pamor
Wos Wutah.
Pamor Udan Mas Segara Wedi
Raja Abala Raja
Pandito bolo Pandito
Pamor Segara Wedhi penampang lingkarannya lebih kecil lagi, sekitar tiga millimeter saja letaknya
cenderung mengumpul ditepi bilah dan ditengah bilah umumnya ada pamor Wos Wutah, Pulo Tirto
atau Ngulit Semangka atau pamor lainnya.
Kalau Sisik Sewu sedikit lebih kecil dari Segara
Wedhi, banyak jumlahnya dan rapat satu sama
lainnya diseluruh permukaan bilah. Begitu
rapatnya sehingga sering tumpang tindih satu
sama lainnya.
Pamor Tetesing Warih, mirip Udan Mas, tetapi
jumlah lingkarannya atau pusarnya hanya tiga
atau kurang dan kadang bercampur disela
pamor Wos Wutah atau Pendaringan Kebak.

SALAH KAPRAH DALAM PENAMAAN PAMOR.
Kesalahan dalam penamaan pamor sering dijumpai diantara pecinta keris, celakanya kesalahan ini
sering keterusan dan dianggap sesuatu yang betul sehingga nama asli dari pamor tersebut malah
kurang dikenal.
Yang paling sering dikelirukan adalah
pamor Adeg, dikenal sebagai pamor
Singkir, padahal Singkir seharusnya nama
empu, hanya kebetulan saja empu ini
banyak membuat pamor Adeg.
Salah kaprah seperti ini banyak terjadi di
Jawa Tengah.
Kesalahan yang mirip dengan itu adalah
penamaan pamor dengan sebutan “bulu
ayam”. Pamor seperti Ron Genduru, Ron
Pakis, Mayang Mekar, Sekar Tebu, Pari
Sawuli dan yang mirip itu, semuanya
dianggap sama dan disebut pamor “bulu
ayam”. Salah kaprah seperti ini banyak
terjadi di Jawa Timur.
Salah kaprah lainnya pamor Sedayu, ini salah, karena Sedayu adalah daerah yang banyak membuat
keris pada jaman Majapahit dengan empunya yang terkenal Empu Pangeran Sendang Sedayu.
Buatannya hanya berpamor sedikit saja dan terkadang tanpa pamor, akibatnya semua yang tanpa
pamor atau sedkit sekali pamornya disebut pamor Sedayu.
Keris yang tanpa pamor ini, yang besinya hitam mulus, disebut “tanpa pamor” saja atau “Kelengan”.

BUNGKALAN.
Ini bukan nama pamor tetapi bentuk pamor pada
ujung bilah keris atau tombak, pamor apapun
apabila pada dekat ujung bilah bercabang dua dan
kedua cabang itu menerjang tepi bilah dinamakan
pamor Bungkalan. Sepintas seperti lidah ular.
Ron Pakis Ron Genduru Mayang Mekar

NAMA DAN ISTILAH YANG BERKAITAN DENGAN PAMOR DAN BENTUK KERIS.
PAMENGKANG JAGAD.
Ada celah memanjang ditengah bilah yang disebabkan retak, paling banyak terjadi dikeris dengan
pamor miring. Ini terjadi saat membuat saton sewaktu penempaan suhunya kurang tinggi sehingga
ada bagian tertentu yang penempelan besi dan bahan pamornya atau dengan lapisan besi lainnya
kurang sempurna.
Tetapi ini baru diketahui setelah keris jadi, terutama
waktu nyepuhi tiba tiba keris itu retak. Jadi dari segi
teknik pembuatan keris ini tergolong mis-product.
Karena itu pulalah maka keris yang Pamengkang Jagad
umumnya bukan keris yang mempunyai garap baik.
Kalangan kraton juga menganggap keris ini tergolong
tidak baik.
Yang mengherankan kalangan luar keraton banyak yang menganggap ini keris baik, malah amat baik,
ini juga disukai di Malaysia, Serawak, Brunei. Diduga ini dikarenakan keris dengan teknik lapis itu
dibuat oleh empu keraton sehingga biasanya selalu baik dan mis-product juga tetap dianggap baik
mutunya.
Dari segi esoteri keris Pamengkang Jagad termasuk pemilih, tidak semua orang bisa cocok, tuahnya
bisa dirasakan juga oleh orang sekelilingnya, dianggap cocok untuk orang yang mempunyai
kekuasaan diwilayah tertentu seperti Bupati, Komandan Kodim dsb.

PEGAT WAJA.
Keris ini juga keris retak, Cuma retaknya bukan antara besi dengan besi atau besi dengan pamor
melainkan antara saton dan lapisan bajanya. Oleh karena itu keris Pegat Waja hanya akan terjadi
pada keris-keris yang dilapisi baja saja.
Keratakan ini terjadinya bukan vertical permukaan bilah, melainkan horizontal. Mirip dengan
keretakan pada kayu Plywood yang tertimpa hujan (nglokop), keris ini sebaiknya dibuang atau
dilarung saja karena kurang baik.

REJANG LANDEP.
Ini bukan nama salah satu pamor tetapi alur pamor tidak mengarah kealur ditengah melainkan ada
bagian (ujungnya) keluar dari bilah (lihat gambar).
Apapun pamornya, keris ini
tuahnya buruk dan biasanya
membawa suasana sengketa
serta salah pengertian. Tetapi
ada juga yang menyimpan
dengan maksud tuah keris ini
bisa membantu bila yang punya
melakukan suatu kesalahan dan
bisa terhindar dari hukuman.
Keris yang telah auspun pamornya bisa berubah menjadi Rejang Landep.

PAMOR DAN NAMANYA
Nama untuk pamor keris berlaku juga untuk tosan aji lainnya seperti Tombak, Wedung, Pedang dsb.
Khusus pamor yang pemilih yang biasanya diperuntukan untuk kedudukan tertentu atau karakter
tertentu, sebaiknya di “tayuh” dahulu apakah cocok atau tidak sedangkan yang tidak pemilih bisa
dimiliki oleh siapa saja.

WOS WUTAH.
Pamor yang paling banyak dijumpai, bentuknya tidak teratur tetapi tetap indah dan umumnya
tersebar dipermukaan bilah. Ada yang berpendapat pamor ini pamor gagal, saat si empu ingin
membuat sesuatu pamor tetapi gagal maka jadilah Wos Wutah. Tetapi ini dibantah dan beberapa
empu dan pamor ini memang sengaja dibuat serta termasuk pamor tiban.
Pamor ini berkhasiat baik untuk ketentraman dan keselamatan pemiliknya, bisa digunakan untuk
mencari rejeki, cukup wibawa dan disayang orang sekelilingnya, pamor ini tidak pemilih.
Contoh Pamor WOS WUTAH

NGULIT SEMANGKA
Sepintas seperti kulit semangka, tuahnya seperti
Sumsum Buron, memudahkan mencari jalan rejeki dan
mudah bergaul pada siapa saja dan dari golongan
manapun. Pamor ini tidak memilih dan cocok bagi
siapa saja.

TAMBAL.
Mirip goresan kuas besar pada sebuah bidang lukisan.
Tuahnya biasanya menambah kewibawaan dan
menunjang karier seseorang. Menurut istilah Jawa bisa
menjunjung derajat. Pamor ini termasuk pemilih dan
tidak setiap orang cocok.

PULO TIRTO.
Seperti Wos Wutah hanya gumpalan gambarnya
terpisah agak berjauhan, seperti bentuk pulau pada
peta. Tuahnya sama dengan pamor Wos Wutah.

SUMSUM BURON.
Pamor ini juga mirip Wos Wutah, gumpalan juga
terpisah agak berjauhan seperti Pulo Tirto hanya agak
lebih besar dan lebih menyatu. Tuahnya baik, tahan
godaan dan murah rejeki serta tidak pemilih.

MELATI RINONCE.
Bentuknya mirip pamor Rante tetapi umumnya
bulatannya lebih kecil dan tidak berlubang. Bulatan itu
berupa pusaran pusaran mirip dengan pamor Udan Mas
tetapi agak lebih besar sedikit.
Tuahnya mencari jalan rejeki dan menumpuk kekayaan.
Untuk pergaulan juga baik, pamor ini tidak memilih dan
bisa digunakan siapa saja.

RANTE.
Tuah utama pamor ini adalah untuk menampung dan
mengembangkan rejeki yang didapat. Bisa mengurangi
sifat boros, tetapi bukan pelit.
Cocok untuk semua orang baik digunakan berdagang
atau berusaha. Bentuknya agak mirip pamor Melati
Rinonce, hanya bedanya pada bulatannya ada semacam
gambar “lubang”.

ADEG.
Pamor Adeg banyak dijumpai, tergolong pamor pemilih
tetapi lebih banyak yang cocok daripada tidak. Tuahnya
terutama sebagai penolak, ada yang menolak gunaguna,
ada yang menolak wabah, angin ribut, banjir dan
lainnya. Ada yang hanya menolak satu sifat ada yang
beberapa sifat penolakan.

MRAMBUT.
Sepintas seperti Adeg, bahkan ada yang
menyamaratakan dengan membuat istilah baru Adeg-
Mrambut. Padahal sebenarnya lain. Pamor Mrambut
alurnya terputus-putus. Tuahnya hampir sama dengan
pamor Adeg. Tergolong pemilih, tidak semua orang
cocok.

SEKAR LAMPES.
Tuah dari pamor ini mirip dengan pamor Tumpal Keli.
Hanya pada pamor Sekar Lampes umumnya juga
mengandung tuah yang menambah kewibawaan
pemakainya dan tergolong pamor yang tidak pemilih.

ILINING WARIH.
Rejeki yang lumintu, walaupun sedikit demi sedikit
tetapi selalu ada saja. Itulah yang utama tuah dari
Ilining Warih. Selain soal rejaki, pamor ini juga baik
untuk pergaulan. Tidak memilih dan umumnya cocok
untuk siapapun.

BLARAK NGIRID.
Disebut juga kadang dengan “Blarak Sinered”, tapi
ada juga yang menyebut Blarak Ngirid lain dengan
Blarak Sinered. Tuah utamanya menambah
kewibawaan dan juga baik untuk pergaulan karena
disayang orang sekelilingnya, baik pihak atasan atau
bawahan. Pamor ini tergolong pemilih.

RON PAKIS.
Mirip sekali dengan Blarak Ngirid, hanya pada bagian
tepinya seolah ada sobekan. Tergolong pemilih dan
tuahnya untuk kewibawaan serta keberanian (tatagbhs
jawa). Baik dimiliki oleh orang yang
berkecimpung dibidang Militer dan Keprajuritan.

KOROWELANG.
Juga hampir sama dengan Blarak Ngirid atau Ron
Pakis, tetapi “daun” nya lebih besar dan lebih
menyatu. Tuahnya juga hampir sama dengan Blarak
Ngirid, tetapi fungsi pergaulannya lebih besar dari
fungsi wibawanya. Beberapa keris dengan pamor ini
(tidak semua) baik juga untuk mencari jalan rejeki.
Tergolong pamor pemilih.

RON GENDURU.
Ada yang menyingkat menjadi RONGENDURU atau
menyebut RON KENDURU. Agak mirip Ganggeng
Kanyut tetapi relatif susunannya lebih teratur dan
rapi. Tuahnya berkisar pada kewibawaan dan rejeki.
Baik digunakan untuk pengusaha yang punya banyak
anak buah. Tergolong pamor pemilh.

MAYANG MEKAR.
Bentuknya indah sekali seperti daun Seledri, tuahnya
memperlancar pergaulan dan dikasihani orang
sekeliling. Beberapa diantaranya malah bertuah
memikat lawan jenis. Tergolong pamor pemilih.

WIJI TIMUN.
Menyerupai biji ketimun. Hampir sama dengan pamor
Uler Lulut tetapi lebih kecil dan lonjong. Tuahnya juga
untuk mencari jalan rejeki. Ada sedikit unsure
kewibawaan. Baik untuk pedagang maupun untuk
pengusaha. Pamor ini agak pemilih.

KENONGO GINUBAH.
Tuahnya menarik perhatian orang. Pergaulannya baik
dan diterima digolongan manapun. Tetapi pamor ini
termasuk pemilih.

WALANG SINUDUK.
Bentuknya mirip dengan satai belalang. Posisi
belalang-belalangnya bisa miring kekiri, bisa kekanan.
Tuah utamanya mempengaruhi orang lain.
Wibawanya besar sehingga baik dimiliki oleh pemuka
masyarakat, guru, pemimpin politik. Tergolong pamor
pemilih.

TUMPAL KELI.
Tuahnya baik untuk pergaulan. Bisa menunjang karier
karena pemiliknya akan disayang atasan. Termasuk
pamor tidak pemilih.

BENDOSEGODO.
Bentuknya menyerupai bulatan menggumpal dari
bawah keatas. Tuahnya untuk jalan rejeki dan
pergaulan serta ketentraman rumah tangga.
Tergolong tidak pemilih.

MELATI SINEBAR.
Mirip pamor Tetesing Warih, merupakan bulatan
bersusun rangkap tiga atau lebih tetapi bulatannya
tidak sempurna betul dengan garis tengah sekitar 1
cm. Tempatnya ditengah bilah dan jarak satu bulatan
dengan lainnya sekitar 1 cm atau lebih. Pamor ini
tergolong tidak pemilih dan tuahnya untuk mencari
rejeki.

MANIKEM.
Tergolong pamor langka dan hanya dijumpai dikeris
muda terutama tangguh Madura. Bentuknya mirip
Melati Rinonce atau Melati Sato-or tetapi garis
penghubung antar bulatan-bulatannya lebih gemuk,
lebih lebar. Sedangkan bulatannya juga lebih lebar
dibandingkan Melati Rinonce, bahkan ada yang
hampir menyentuh tepi bilah. Tergolong tidak pemilih
dan bertuah memudahkan mencari rejeki.

SEKAR KOPI.
Ditengah bilah ada pamor yang menyerupai garis
tebal dari sor-soran sampai dekat ujung bilah. Dikiri
kanan garis tebal ini terdapat lingkaran-lingkaran
bergerombol atau berkelompok. Satu kelompok terdiri
dari dua atau tiga lingkaran menempel pada garis
tebal seolah-olah biji kopi menempel pada tangkai
bijinya. Tuahnya memperlancar rejeki tergolong tidak
pemilih tetapi termasuk pamor langka.

BONANG RINENTENG.
Ada yang menyebutnya Bonang Sarenteng, agak
mirip dengan pamor Sekar Kopi tetapi bulatannya
hanya satu. Boleh dikiri-kanan secara simetris atau
selang seling. Baik Bonang Rinenteng ataupun Sekar
Kopi, bulatannya seperti pusaran di pamor Udan Mas.
Tergolong tidak pemilih dan memudahkan mencari
rejeki.

JUNG ISI DUNYA.
Bentuknya mirip Putri Kinurung. Bedanya bulatanbulatan
kecil yang terdapat pada “kurungan” bulatan
relatif lebih besar. Ada juga yang bentuknya sepintas
mirip pamor Bendo Segodo. Tuahnya untuk
“menumpuk” kekayaan dan tidak pemilih.

WULAN-WULAN.
Di Jawa Timur disebut Bulan-Bulan. Mirip Melati
Sinebar atau mirip Bendo Segodo. Bedanya pada
pamor Wulan-Wulan , bagian tengahnya berlubang
jelas. Tuahnya memudahkan mencari jalan rejeki dan
mengikat langganan. Sering disimpan ditoko atau
warung.

TUNGGAK SEMI.
Pamor ini terletak ditengah Sor-soran, bentuk seperti
tampak digambar samping. Berkombinasi dengan
pamor Wos Wutah. Tuahnya untuk mendapatkan
rejeki walau bagaimanapun kecilnya. Tidak termasuk
pamor pemilih.

BAWANG SEBUNGKUL.
Bentuknya memang mirip bungkul bawang, berlapislapis.
Paling sedikit ada lima lapisan dan terletak di
sor-soran. Tuahnya dibidang rejeki , untuk
pengembangan modal. Cocok untuk orang yang
bekerja di Bank dan pengembangan modal. Tidak
pemilih.

UDAN MAS.
Pamor ini banyak dicari orang, terutama pedagang
dan pengusaha. Bentuknya merupakan pusaran atau
gelang-gelang berlapis, paling sedikit ada tiga lapisan.
Letaknya ada yang beraturan dan ada yang
berserakan. Pamor ini sering pula berkombinasi
dengan Wos Wutah atau Tunggak Semi. Manfaatnya
untuk mencari rejeki dan tidak pemilih.

SISIK SEWU.
Seperti gambar sisik ikan, tetapi bila diperhatikan
seperti pamor Udan Mas menggumpal menjadi satu,
namun pamor ini kurang begitu dikenal, mungkin
karena memang jarang. Selain untuk rejeki juga
untuk meningkatkan wibawa. Cocok bagi pengusaha
dengan banyak karyawan.

PUTRI KINURUNG.
Bentuknya menyerupai gambaran danau dengan tiga
atau lebih “pulau” ditengahnya. Letaknya ditengah
sor-soran. Tuahnya untuk memudahkan mencari
rejeki dan mencegah sifat boros. Bisa diterima
dikalangan manapun. Tidak pemilih.

GUMBOLO GENI.
Sering juga disebut “Gumbolo Agni” atau “Gumbolo
Gromo”. Letaknya ditengah sor-soran dan gambarnya
seperti “binatang Kala” dengan posisi ekor seperti
menyengat. Tuahnya baik, wibawanya besar dan bisa
untuk “singkir baya”, baik dimiliki oleh pimpinan sipil
ataupun militer. Termasuk pamor pemilih.

TANGKIS.
Panamaan dari pamor yang hanya terdapat pada satu sisi saja dan sisi lain tanpa pamor alias
kelengan, kadang kalau pamor atau bentuk bilah berlainan kiri-kanan sering juga disebut pamor
Tangkis. Namun ini harus diperhatikan juga apakah memang tidak ada pamornya ataukah sudah
hilang karena terkikis atau aus. Kalau karena aus maka ini bukan pamor Tangkis. Tuahnya menolak
wabah penyakit.

PENGAWAK WAJA.
Ini istilah untuk keris TANPA pamor sama sekali. Pada keris muda, Pengawak Waja memang tidak
diselipi bahan pamor, tetapi pada keris tua masih mengandung bahan pamor walau tidak kelihatan
karena penempaan dibuat ratusan kali bahkan ribuan kali lipatan sehingga sudah menyatu dan luluh
bilahnya. Hanya tampak seperti urat halus atau serat saja.
Tuahnya susah dibaca, hanya mereka yang mengetahui ilmu esoteri saja yang bisa membaca.

TRIMAN.
Ada yang menyebut Pamor TARIMO, mirip sekali dengan
WOS WUTAH, tetapi agak rapat dan pamor ini tiba tiba
berhenti ditengah bilah, kadang hanya ada di sor-soran
saja. Pamor ini sesuai untuk yang berusia lanjut,
pensiunan dan tidak lagi memikirkan soal duniawi. Baik
juga dipunyai oleh yang bersifat brangasan, suka marah
tetapi kurang baik dipunyai oleh mereka yang masih aktif
bekerja.

ANDHA AGUNG.
Mirip pamor Rojo Abolo Rojo tetapi ukurannya relatif lebih
kecil. Terletak ditengah bilah biasanya dikelilingi pamor
Wos Wutah dan panjang hanya sepertiga atau setengah
bilah. Tuahnya menyangkut kederajatan dan kewibawaan.
Tergolong pamor tidak pemilih.

KUL BUNTET.
Mirip pamor Batu Lapak, bedanya pusarannya hanya satu
dan alurnya melingkar dan secara keseluruhan lebih bulat
dibandingkan pamor Batu Lapak. Tuahnya hampir sama
dengan Batu Lapak tetapi Kul Buntet punya nilai rejeki.
Selain menghidarkan bahaya juga menghalangi usaha
penipuan. Umumnya pamor ini baik untuk semua orang.

KUTO MESIR.
Ada yang menyebut “Kutu Mesir” atau “Kutu Masir”.
Bentuknya terdiri dari tumpukan gelang gelang tidak
begitu bulat tetapi cenderung agak persegi. Letaknya
dibagian sor-soran dan tuahnya hampir sama dengan Kul
Buntet tetapi fungsi rejeki nya lebih kuat. Biasanya dicari
pedagang, pengusaha dan pejabat tinggi. Pamor ini sering
dikombinasi dengan pamor lain seperti Wos Wutah dan
Tunggak Semi.

DAN RIRIS.
Ada yang menyebut Udan Riris, ada yang penuh dari sorsoran
sampai ujung bilah, ada yang “mengisi” sebagian
bilah saja. Walau bentuknya tidak seindah pamor
Nogorangsang namun umumnya tuahnya lebih kuat.
Selain kewibawaan dan kepemimpinan ada fungsi untuk
menolak guna-guna. Pamor ini pemilih.

REGED BANYU.
Pamor ini ada yang menghias seluruh bilah, ada yang
sebagian saja, tidak dari sor-soran keujung bilah. Tuahnya
untuk melindungi si pemilik dari musibah mendadak.
Bahasa Jawanya “Singkir Baya” atau “Tulak Bilahi”. Pamor
ini tidak pemilih.

ROJO SULEMAN.
Ada yang menyebut pamor Nabi Sulaiman.
Banyak pula yang mengatakan ini adalah
rajanya pamor. Letaknya ditengah sor-soran.
Tuahnya memang merupakan kumpulan dari
hal-hal yang baik, positip. Menghindari bahaya
dan mencari jalan rejeki, wibawanya kuat,
disayang dan disegani orang disekilingnya.
Namun pamor ini punya sifat “memilih”.

BATU LAPAK.
Bentuknya menyerupai pusaran yang
melingkar-lingkar, biasanya lebih dari lima.
Letaknya di sor-soran tengah. Tuahnya “Singkir
Baya”. Baik untuk anggota Militer ataupun
orang biasa. Berkhasiat bagi yang mempelajari
kekebalan, bela diri. Pamor tidak memilih.

SIRAT.
Kadang disebut “Teja Bungkus” atau “Bima Bungkus”,
baik dipegang oleh mereka yang punya posisi pimpinan
karena factor wibawa, kepemimpinan dan disayang anak
buah.

TUNGGUL WULUNG.
Yang baik kalau pamor Tunggul Wulung ini merupakan
pamor tiban. Bentuknya mirip gambar anak yang sangat
sederhana, hanya kepala, tangan dan kaki dan menempati
daerah blumbangan. Tuahnya menolak berbagai macam
penyakit dan tidak memilih tetapi pemiliknya harus
berperi-laku baik, tak boleh menyeleweng. Tergolong
pamor langka.

LINTANG KEMUKUS.
Disebut juga “Kukus Tunggal”, bentuknya seperti Sodo
Saler, hanya dibagian sor-soran pamor ini menggumpal.
Gumpalan ini boleh berupa Benang Setukel atau Tunggak
Semi atau Wos Wutah atau juga Bawang Sebungkul.
Selain dipercaya membawa rejeki juga untuk ketenaran
dan menambah wibawa. Tidak pemilih.

PANCURAN MAS.
Banyak dicari pedagang dan pengusaha karena dipercaya
membawa keberuntungan bagi pemiliknya, lagipula tidak
pemilih. Bentuknya mirip Sada Saler tetapi dibagian
ganjanya tepat diujung Sada Saler pamornya seperti
bercabang dua.

SADA SALER.
Arti harfiahnya Lidi Sebatang, bentuknya sesuai dengan
namanya. Berupa garis lurus membujur sepanjang bilah.
Tuahnya ada yang untuk menambah kewibawaan,
ketenaran (populeritas) atau keteguhan iman dan pamor
ini cocok untuk semua orang.

WENGKON.
Ada yang menamakan pamor Tepen. Bentuknya mirip
bingkai (wengkon artinya bingkai). Tuahnya untuk
perlindungan, ada yang untuk menghindari dari godaan,
ada yang memperbesar rasa hemat dan ada yang untuk
menghindari dari guna-guna.

KUDHUNG.
Pamor ini selalu terletak diujung bilah dan tuahnya seperti
namanya untuk melindungi pemiliknya dari serangan
guna-guna dan perlindungan dalam situasi darurat. Pamor
ini sering digunakan untuk “penunggu rumah”.

SATRIYA PINAYUNGAN.
Ada dua macam pamor Satriya Pinayungan. Yang pertama
pamor pada bagian sor-soran, apa saja bentuknya, bisa
Wos Wutah, lalu diatas pamor itu (dekat ujung bilah)
terdapat pamor Kudhung.
Yang kedua, motif pada sor-soran menyerupai Udan Mas
tapi bentuknya teratur. Tiga bulatan mendatar diteruskan
beberapa bulatan keatas.
Tuahnya sama, membi perlindungan bagi pemiliknya dari
perbuatan sirik orang lain. Walau keduanya tidak pemilih
tetapi pamor yang pertama lebih cocok untuk mereka
yang bekerja di pemerintahan sedangkan yang kedua
untuk wiraswasta.
Untuk yang pertama dianut oleh penggemar keris dari Solo ketimur, sedang kedua oleh penggemar
dari Yogya ke barat, mana yang benar tetapi pendapat keduanya diterima oleh sebagian besar
penggemar keris.

BADAELA.
Pamor ini tuahnya buruk, ada yang menyebut pamor
Bebala. Sebaiknya dilarung saja sebab pemiliknya akan
kena pindah, dicurigai serta menerima akibat buruk
pekerjaan orang lain

SEGARA WEDHI.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia, Gurun Pasir. Namun
sifat tuahnya bukan berarti “kering kerontang” atau
“gersang” melainkan justru baik. Menurut banyak orang
tuahnya mudah mendapatkan rejeki. Mirip Udan Mas
tetapi bulatannya lebih kecil dan lebih banyak serta
tersebar diseluruh permukaan bilah. Pamor ini tergolong
tidak pemilih.

UNTU WALANG.
Arti harafiahnya “Gigi Belalang”, tuahnya menambah
kewibawaan seseorang. Dituruti kata katanya dan pamor
ini tergolong pemilih, hanya orang yang punya kedudukan
cukup tinggi bisa cocok. Untuk guru dan pendidik
biasanya juga cocok.

TUNDUNG.
Tergolong pamor yang buruk tuahnya. Sipemilik akan
sering pindah rumah atau diusir oleh sesuatu sebab.
Rumahtangga tidak tentram dan dijauhi rejeki. Sebaiknya
dibuang saja.

ENDAS BAYA.
Tuahnya buruk, sipemilik sering dapat musibah karena
tingkah lakunya sendiri. Sebaiknya dibuang saja karena
siapapun pemakainya akan selalu sial.

DHADHUNG MUNTIR.
Mirip Sada Saler tetapi “garis” ditengah bilah mempunyai
motif seperti pilinan tambang atau dhadhung. Tuahnya
sama dengan Sada Saler, menyangkut kewibawaan,
keteguhan hati. Pamor ini banyak terdapat pada keris
buatan Madura dan tergolong pamor pemilih.

RAHTAMA.
Terletak dibagian sor-soran merupakan pamor tiban
diantara pamor dominan seperti Wos Wutah dan Ngulit
Semangka. Baik sekali jika diberikan pada suami-istri yang
baru menikah dengan harapan agar memperoleh anak
yang soleh dan berbudi luhur.

PUSAR BUMI.
Disebut juga Puser Bumi. Bentuknya mirip Udan Mas
tetapi dengan skala yang jauh lebih besar, minimal
sebesar koin limapuluh rupiah dan kadang sampai 8 cm,
terutama pada bilah tombak. Pamor ini tergolong pamor
miring, merupakan lingaran yang berlapis dan bukan
melingkar seperti obat nyamuk, tuahnya baik tetapi
pemilih dan tidak semua orang “kuat” memilikinya.
Umumnya dipercaya sebagai pamor yang baik untuk
menjaga rumah.

LINTAS MAS.
Letaknya dibagian tengah sor-roran, paling sedikit jumlah
pusaran-pusarannya ada lima buah. Baik untuk berdagang
terutama perhiasan. Pamor ini pemilih dan tuahnya hanya
bisa dirasakan oleh yang cocok saja.

SODO SALER.
Bentuknya merupakan garis lurus dari sor-soran keujung
bilah. Tuahnya untuk kewibawaan dan keprajuritan serta
meneguhkan dalam mencapai cita-cita, baik untuk militer
atau yang berambisi mencapai sesuatu cita-cita.
Tergolong pemilih.

NUR.
Letaknya ditengah sor-soran, mirip huruf S. tuahnya baik
terutama untuk guru, pemimpin atau orang yang dituakan
serta wibawanya besar, punya sifat pelindung dan tempat
bertanya orang lain. Sifatnya pemilih, untuk yang masih
“muda” umumnya kurang kuat.

SEKAR SUSUN.
Hampir seperti Melati Rinonce tetapi ukuran bunganya
lebih besar. Bentuk bunga seperti bulatan pada pamor
Bendo Segodo. Memudahkan dalam mencari rejeki dan
tidak pemilih. Hanya ditemukan pada keris keris yang
relatif muda.

SEKAR TEBU.
Hampir seperti Blarak Ngirid atau Sinered, tetapi ujungnya
tidak sampai kebilah keris, malainkan agak mengumpul
ditengah saja dan guratannya lebih halus. Tidak pemilih
dan tuahnya untuk kewibawaan dan kepemimpinan.

KLABANG SAYUTO.
Seperti paduan pamor Blarak Ngirid dan Naga Rangsang.
Sepintas seperti seekor klabang dengan kaki seribunya.
Dipercaya bisa menambah kewibawaan dan kekuasaan.
Pamor ini tergolong pemilih dan hanya cocok bagi yang
memegang posisi pimpinan.

MANGGAR.
Mirip untaian Bunga Kelapa. Merupakan kumpulan dari
bentuk pamor macam pamor Wiji Timun tetapi letaknya
sering menyudut, bersusun dari sor-soran keujung bilah.
Memudahkan mencari rejeki dan menonjol dalam
lingkungan pergaulan. Tidak pemilih.

JALA TUNDA.
Tergolong pamor pemilih. Tuahnya untuk ketenaran,
untuk menonjol dalam lingkungandan tergolong pamor
langka walau dari teknik pembuatan tidak terlampau
sukar.
Sepintas mirip pamor Wengkon tetapi lebar dan pada
bagian dalam ada lekuk-lekuk yang terkadang simetris
berhadapan tetapi pada bagian lain sering tidak simetris.
Pamor Jala Tunda yang bagus, garis-garis yang menjadi
wengkon biasanya halus dan rangkap banyak sekali.

SUMUR BANDUNG.
Merupakan bulatan hitam besi tanpa pamor sebesar uang
logam lima puluh sen-an atau lebih kecil sedikit letaknya
ditengah bilah, diantara pamor – biasanya Wos Wutah
nggajih atau Pendaringan Kebak nggajih. Banyak terdapat
pada keris buatan Madura. Tergolong pamor pemilih dan
paling cocok buat keprajuritan, militer atau yang belajar
ilmu kekebalan.

BUNTEL MAYIT.
Nama yang menyeramkan, artinya “pembungkus mayat”.
Tergolong pamor sangat pemilih. Kalau cocok akan cepat
menanjak kariernya atau kekayaannya tetapi kalau tidak
cocok bisa mendapatkan malapetaka. Karena itu bila
menginginkan pamor ini sebaiknya ditanyakan dulu pada
mereka yang tahu agar bisa dilihat cocok atau tidaknya.

JAROT ASEM.
Ini termasuk pamor langka walau tampaknya sangat
sederhana tetapi pembuatannya sangat sulit. Sepintas
seperti jalinan serabut kasar, saling menyilang arahnya
tetapi tidak ada kesan tumpang tindih. Pamor ini
dipercaya memberikan pengarus baik pada pemiliknya,
menjadi teguh hatinya dan besar tekatnya. Amat cocok
bagi yang punya cita cita besar baik dalam pendidikan
ataupun dalam pekerjaan.

KENDHIT GUMANTUNG.
Ini termasuk pamor tiba. Letaknya dibagian sor-soran dan
biasanya bercampur pamor yang lebih dominan seperti
Wos Wutah atau Ngulit Semangka. Baik untuk setiap
orang. Dipercaya dapat menolak segala macam penyakit
menular, jadi seperti anti wabah. Tetapi pemiliknya harus
menjaga tingkah lakunya dan jangan sampai
menyeleweng dari jalan yang lurus.

KUPU TARUNG.
Sepintas seperti gambar kupu-kupu sedang berlaga.
Namun esoterinya tidak ada sangkut paut dengan bidang
laga, bahkan baik untuk pergaulan. Pamor ini tidak
pemilih dan terletak sepanjang bilah dari sor-soran hingga
ujung bilah.

MRUTU SEWU.
Mirip Udan Mas dan Sisik Sewu. Pamornya berupa bulatan
besar dan kecil, rapat satu sama lainnya dan disela pamor
yang berbentuk pusaran-pusaran itu ada semacam titiktitik
pamor kecil. Pamor ini memudahkan mencari rejaki
juga dipercaya orang memudahkan anak gadis atau janda
dalam mencari jodoh dan pamor ini tidak pemilih.

RATU PINAYUNGAN.
Tergolong pamor tiban yang letaknya di sor-soran dan
biasanya bercampur pamor dominan lainnya.
Pengaruhnya baik pada pemiliknya, melindungi
marabahaya, berwibawa dan punya pengaruh luas. Baik
bagi seorang pimpinan tetapi tergolong keris pemilih.

LAWE SETUKEL.
Biasa disebut “benang setukel” atau “saukel”. Sepintas
memang mirip benang yang diurai dari gulungannya. Keris
ini cocok untuk polisi, militer atau pekerja lapangan.
Banyak yang menganggap keris ini bisa menolak gunaguna
dan keris ini tergolong pemilih.

YOGAPATI.
Hati-hatilah bila berjumpa dengan keris ini. Pamor ini
punya pengaruh buruk sekali, terutama buat yang
bekeluarga. Sering anak-anak sang pemilik sakit-sakitan
atau bahkan meninggal. Sebaiknya dilarung saja.

KINASIHAN.
Ini pamor baik dan tidak pemilih, tuahnya disayang dan
dihormati orang sekeliling. Factor rejeki juga baik, bisa
lumintu (selalu ada saja)

KALACAKRA.
Tergolong pamor langka. Untuk penguasaan wilayah,
kekuasaan dan kewibawaan serta kepemimpinan. Baik
dipakai oleh pemimpin masyarakat. Ada faktor penolak
bala dan guna-guna.

BUNGKUS.
Bentuknya sederhana, Cuma gambaran seperti tonjolan
berlekuk-lekukbagai kepompong ulat dan letaknya di sorsoran.
Tuahnya memudahkan mencari rejeki, hemat serta
merupakan pamor yang tidak pemilih. Paling cocok untuk
pedagang atau pengusaha.

SLAMET.
Bentuknya mirip bayi berjambul sedang tidur. Letaknya di
sor-soran dan juga terdapat pada tombak atau pedang.
Tuahnya adalah untuk keselamatan dan tergolong “singkir
baya”, termasuk berguna untuk menolak guna-guna.
Kelebihan dibanding pamor lain, pamor Slamet ini juga
mencegah fitnah serta omongan negatif. Tidak pemilih
dan cocok untuk semua orang.

MAKRIB.
Kadang disebut pamor Makarib. Tuahnya baik sekali,
menyangkut kepemimpinan, rejeki dan keselamatan
dalam perjalanan dan pamor ini tidak pemilih.

TELAGA MEMBLENG.
Bentuknya menyerupai gelang-gelang yang tidak begitu
bulat dan paling sedikit ada tiga gelang-gelang. Letaknya
pada bagian pejetan (blumbangan) dibelakang gandhik.
Tuahnya untuk penumpukan harta dan rejeki, yang sudah
kita terima sukar keluar lagi kecuali untuk hal yang
bermanfaat. Baik buat orang yang pemboros agar bisa
lebih hemat dan pamor ini tidak pemilih.

PANGURIPAN.
Disebut juga pamor Ngurip-urip, mirip pamor Tamsul
Kinurung tetapi bentuk utamanya bukan jajaran genjang
melainkan lingkaran-lingkaran yang pada satu sisinya
seperti meleleh. Letaknya ditengah sor-soran, tuahnya
seperti namanya untuk memudahkan mencari sandangpangan,
rejeki. Pamor ini istimewa dan kadang bisa
digunakan untuk mengusir mahluk halus. Perbawanya
dijauhi binatang buas. Termasuk pamor tidak pemilih.

DIKILING.
Ada yang menyebut pamor Dingkiling atau Cengkiling,
tuahnya buruk bagi yang sudah berumah tangga. Sering
ruwet, cekcok dan tidak tentram bahkan bisa jadi
rumahtangganya akan bubar.

GANGGENG KANYUT.
Tuahnya seperti Sekar Lampes, tetapi yang menonjol
justru kewibawaannya, tergolong juga pamor pemilih.

UNTHUK BANYU.
Mirip dengan air berbuih, tuahnya untuk rejeki dan
pergaulan serta mengurangi sifat boros. Tergolong tidak
pemilh.

WENGKON.
Ada yang menyebut pamot Tepen, ada yang menyebut
Lis-lisan. Bentuknya merupakan alur pamor yang merata
sepanjang pinggiran bilah keris. Tuahnya macam-macam,
ada yang bersifat perlindungan bagi pemiliknya agar
terhindar dari bahaya. Ad yang memberikan perlindungan
terhadap godaan batin, ada pula yang menambah rasa
hemat. Pamor ini tidak pemilih.

TEJO KINURUNG.
Seperti perpaduan pamor Sada Saler dan Wengkon,
tuahnya cenderung seperti Sada Saler yaitu berkaitan
dengan kepemimpinan dan derajat. Tergolong pemilih.

WIJI SEMEN.
Tergolong pamor rekan dan juga pemilih. Tuahnya
melindungi dari guna-guna atau mahluk halus. Tergolong
pamor miring yang menempati bagian bilah dari sor-soran
sampai keujung bilah.

TUMPUK.
Terletak dibagian sor-soran, bentuknya menyerupai garis
melintang antara tiga sampai lima lapis, manfaatnya
seperti Udan Mas, memudahkan “menumpuk” rejeki. Pada
umumnya kerisnya lurus dengan dapur kalau tidak Tilam
Upih atau Brojol.

ROJOGUNDOLO (A).
Sebagian orang menyebut Gundolorojo. Umumnya
terletak ditengah sor-soran, namun adakalanya terletak
agak ketengah bilah keris. Bentuknya mirip gambar
mahluk yang menakutkan, kadang seperti perempuan
kadang seperti laki-laki atau juga hewan. Rojogundolo
yang bertuah biasanya yang dari pamor tiban dan bukan
rekan.

ROJOGUNDOLO (B).
Umumnya bersifat perlindungan terhadap pemiliknya, bisa
digunakan menolak guna-guna, memindahkan mahluk
halus, membersihkan rumah “angker” bahkan jika
kerisnya istimewa bisa digunakan menyembuhkan orang
yang kesurupan. Tergolong pamor tidak pemilih dan bisa
juga terdapat di tombak atau pedang.
Masih banyak lagi pamor yang belum terdata disini, pamor buatanpun sering tidak terdata dengan
baik dan kadang penamaan pamor juga hanya berdasarkan gambar yang terjadi belum ada
padanannya atau juga karena timbul kreasi baru dari sipemesan keris kepada sang empu agar
dibuatkan pamor seperti rancangannya.
Semua masukan mengenai pamor yang baik tercantum didalam tulisan ini ataupun belum tercantum
sangat diharapkan untuk melengkapi data dan kekayaan informasi pamor agar informasi itu tidak
hilang begitu saja.

www.pamorkeris.co.id



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar